Senin, 14 Juni 2010

Memaafkan Tanpa Melupakan

Pasti diantara pembaca pernah merasa disakiti atau dikecewakan orang lain. Pada saat itu, sering kita dinasehati seperti ini, "Sudah, lupakan saja".

atau

"Yang sudah terjadi biarlah...".

atau

"Jangan diingat-ingat".

atau

"Diingat juga tidak ada gunanya".

atau kata-kata lainnya yang sejenis.

Nasihat yang kedengarannya baik dan bijak, tetapi rasanya tidak tepat. Berapa banyak orang yang dapat melupakan rasa sakit atau kecewa? Rasanya tidak banyak...

Hampir tidak mungkin kita melupakan rasa sakit dan kecewa atau kepahitan yang pernah kita alami. Yang namanya pengalaman buruk, atau "kesakitan" yang ditimbulkan orang lain tidak mudah untuk kita hapus dari ingatan kita. Suka atau tidak, itu sudah menjadi bagian hidup kita.

Tapi ada satu hal yang bisa kita lakukan, yaitu bukan melupakannya, melainkan mengingatnya dengan cara baru. Bukan menghapusnya dari ingatan kita, tapi memaknainya dari sudut pandang yang baik.

Yang paling mudah adalah, jika kita merasa disakiti atau dikecewakan, kita bisa bilang :
"saya yakin dia tidak bermaksud begitu..."
"saya yakin dia gak sadar waktu melakukannya..."
"saya yakin ada alasan dia melakukan itu..."

Kejadian yang mungkin kita pernah alami, adalah pada saat berkendaraan dijalan.
Sering kita menemukan sopir ugal-ugalan, baik pengendara angkot, bus, motor, mobil, dll.

Jika saya menerima perlakukan yang saya anggap tidak adil buat saya dari mereka, sering saya cuma bilang dalam hati :
"saya yakin dia sedang kejar setoran yang belum ada lebihnya buat istri dan anaknya..."
"mungkin dia sedang bawa pasien yang sakit keras, dan butuh perawatan segera..."
"mungkin dia terburu-buru, karena terlambat ke kantor...."

Pada akhirnya apa yang saya pikirkan tidak lagi penting. Satu hal yang pasti adalah saya tidak terjebak pada emosi sesaat, yang dapat berujung pada kehilangan mood saat berkendaraan, yang mungkin saja sedang bersama keluarga, sedang berangkat ke kantor, dll.

Tidak ada komentar: